Logika Juha

#*%$☠&!!!

Suatu hari Juha menunggangi keledainya ke pasar untuk membeli sayuran. Setelah akad jual-beli selesai, Juha menaruh sayuran yang baru saja ia beli di kantong pelana. Kantong pelana keledai itu kemudian ia sandang, lantas dengan tenang ia naiki si keledai. Juha berlalu meninggalkan pasar.

Melihat itu, seorang kenalan Juha tidak tahan untuk bertanya,”Kok kantong pelananya tidak kau pasang di punggung tungganganmu? Kau ‘kan tak harus menyandangnya seperti itu!?”

“Oh, takutlah kau kepada Tuhan!” tebas Juha sadis. “Bukankah sudah cukup aku menyusahkan keledai ini dengan mengendarainya? Sekarang kau ingin aku menyiksanya lagi dengan menyuruhnya membawa kantong pelana berisi sayuran ini?”

===== ~ =====

Inilah Juha, si nyentrik yang tak pernah sepi kejutan. Barangkali hikayat Juha sudah terlalu lama terlantar di tengah sahara sehingga butuh sedikit usaha untuk mendeteksi keberadaannya. Hanya saja, Juha dan logikanya tidak pernah benar-benar tertimbun oleh pasir waktu dan masa. Tiap generasi terus melahirkan Juha-Juha baru.

Benarkah? Mari kita lihat;

Juha I

Jon dan Jen sedang dimabuk asmara. Saban hari bapusu-pusu1 saja kerja mereka. Di sekolah, di angkot, di jalanan, di atas motor, di teras rumah, di sembarang tempat. Orang sekampung tahu. Orang sekampung heboh. Orang sekampung marah. Mereka belum sah.

“Dik, aku sesak nafas kalau tak ada Adik,” curhat si Jon.

“Aku juga Da, Uda adalah nafasku,” latah si Jen.

“Tapi orang kampung tak suka kita bersatu Dik,” isak si Jon.

“Iya Uda, tak senang mereka melihat kita mesra dimana-mana. Tapi aku tetap ingin bersama Uda,” ratap si Jen.

“Tapi kita tidak bisa lagi berduaan di sembarang tempat, Dik,” si Jon mencoba dewasa.

“Pasti ada jalan keluar Udaa, ini cinta kita. Ayo kita perjuangkan Uda,” mata si Jen berkaca-kaca.

Keesokan harinya, sesudah shalat tarawih, Jon dan Jen bapusu-pusu di pelataran masjid.

☠   ☠   ☠

Juha II

Iyus bingung. Anak daranya si Nina merengek-rengek lagi. Pusing kepalanya. Keesokan harinya ia harus datang lagi ke sekolah. Sungguh senang sekali sekolah itu mengundangnya. Kali ini tentang anak gadisnya yang suka sekali mengaji tengah malam di sudut nan kelam bersama seorang siswa senior.

Malam itu ia tak bisa tidur. Namun, menjelang fajar sebuah cahaya menelus kepalanya. Ia tahu harus berbuat apa.

Siang itu ketika hadir di sekolah, ia telah siap dengan jawaban.

“Ibu yang terhormat, tentunya Ibu tau kami sudah berusaha semaksimal mungkin mengawal dan memperhatikan Nina. Kami mohon kerja sama Ibu dalam mendidik Nina,” kepala sekolah membuka kaji.

“Sudahlah, Pak. Semalam suntuk kupikirkan masalah ini. Aku sudah ada solusi,” jawab Iyus sigap.

“Wah, bagus sekali Ibu. Boleh tahu solusi yang ibu maksud seperti apa?”

“Pagi ini sudah kubelikan Nina sebuah ponsel pintar.”

“Loh..?”

“Ya.”

“Maaf, Bu. Kami khawatir yang Ibu lakukan itu bukanlah solusi. Tanpa ponsel pintar saja Nina sudah di luar kendali. Para siswi di sekolah ini memang dipisahkan dari siswa. Namun komunikasi negatif di antara mereka terus terjalin. Seperti kasus Nina, dia bertukar pesan dengan si Siswa lewat secarik kertas.”

“Iya, saya tahu. Nina sudah cerita,” kejar Iyus.

“Lalu?” kening kepala sekolah keriting.

“Makanya saya belikan ponsel pintar. Biar Nina tak susah-susah lagi menulis pesan di kertas! Kasian Pak! Sudah Nina repot begitu, Bapak tetap saja memarahi!”

☠   ☠   ☠

Juha III

Iyas meradang. Nilai anaknya anjilok. Drastis. Entah apalah kerja anak ini di sekolah, batinnya. Ia segera menelpon pihak sekolah.

“Iya Bu, ada yang bisa kami bantu?”

“Saya ingin bertanya tentang anak saya, si Dadu. Mengapa nilainya anjilok?”

“Sebenarnya Dadu anak yang pintar, Bu.”

“Ya, makanya…”

“Begini Bu, saya yakin anak-anak tidak ada yang bodoh.”

“Poin Bapak apa?”

“Ya, maksud saya, kalau nilai Dadu tidak penuh ke atas, ya tentunya penuh ke bawah.”

“Maksud Bapak?”

“Berhubung teman-teman Dadu nilainya sudah penuh ke atas, saya beri nilai Dadu penuh ke bawah.”

“Loh!!?”

“Begini saja Bu. Ibarat air dalam gelas yang tak terisi penuh. Ibu bisa saja menyebut gelas itu setengah berisi, atau setengah kosong. Bukan begitu, Ibu?”

“Ya…?”

“Selamat, pertanyaan Ibu sudah terjawab.”

“Dengan kata lain kemampuan Dadu tidak memenuhi standar yang ditetapkan, begitu maksud Bapak?”

“Bukan, saya hanya ingin menjadi guru yang adil – sesuai yang telah diamanahkan kepada saya. Semester kemarin Dadu saya kasih “setengah berisi”. Makanya semester ini Dadu saya kasih “setengah kosong”.

☠   ☠   ☠

Disclaimer: Semua nama yang di pakai dalam tulisan ini tak lebih dari sekedar media. Jika kebetulan ditemukan di kehidupan nyata, silahkan bertanya kepada Juha.

Gonjang-ganjing kehidupan

Parak Kapundan, 4 Juni 2017

1Nongkrong, ngumpul, dalam hal ini berduaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s