ANCORA IMPARO

مَنْ قَالَ أنَا عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ

Mereka yang mengaku tahu sebenarnya tidaklah mengetahui

Bagi yang pernah bersinggungan dengan para seniman Italia pada masa Renaissance, maka Michelangelo adalah patung David, dan patung David adalah Michelangelo. Dua hal yang tak bisa dipisahkan; sang seniman dan mahakarya-nya. Namun, ada yang lebih menarik dari perjalanan hidup Michelangelo dari pada kisahnya dengan David; ANCORA IMPARO.

Memang penyematan frasa ini pada si pematung legendaris tak luput dari perdebatan1. Yang jelas, masyarakat dunia didominasi oleh kisah bahwa Michelangelo menorehkan kata-kata ini di sudut sebuah karyanya pada saat ia sudah berumur 87 tahun.

Ya, bukan 17 tahun, tapi di usia 87 tahun – yang normalnya menunjukkan kematangan – ia menuliskan ANCORA IMPARO, atau dalam bahasa kita: Saya masih belajar.

Tak pelak kisah ini menyegarkan ingatan pada sebaris kearifan dari Ibn al-Mubarak:

لَا يَزَالُ المَرْءُ عَالِماً مَا طَلَبَ العِلْمَ فَإنْ ظَنَّ أنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ2

Mereka yang alim adalah mereka yang terus belajar. Ketika seseorang merasa sudah pandai, ketika itulah ia jatuh dalam kejahilan3

Merasa sudah mengetahui, adalah racun yang melumpuhkan, bahkan mematikan. Dalam redaksi lain, kita dinasehati:

يَضِيْعُ العِلْمُ بَيْنَ اثْنَيْنِ: الحَيَاءِ وَالكِبْرِ

Ilmu akan punah di antara rasa malu (bertanya) dan keangkuhan.

Malu dan angkuh hanya dipisahkan oleh selaput yang sangat tipis. Tak jarang rasa malu itu sendiri adalah anak kandung keangkuhan. Contoh sederhananya adalah ketika senioritas diri menghalangi kita untuk menuntut ilmu, dengan alasan malu, saat itulah kita tengah berselimut keangkuhan.

Belum lagi kerbau yang tidak ditambatkan. Petani yang malas menambak pematang sawah. Guru-guru yang tidak lagi membuka buku. Cendekiawan yang tak bermanfaat. Pendosa yang semakin larut dalam kubangan dosa seiring perputaran bumi. Pelayan yang bertransformasi menjadi juragan. Terdengar familiar?

Sungguh Iblis beserta kroni-kroninya adalah raja diplomasi, guru besar segala tipu daya. Akan tetapi, Iblis, meskipun ia telah angkuh dan tidak sudi sujud di hadapan Adam, sebenarnya Iblis adalah maskot kerendahan hati, guru yang patut di ‘iringi’. Iblis memang tidak tahu malu. Dengan segala kerendahan hati ia rela bertukar bentuk, bermuka dua serta berminyak air dari waktu ke waktu. Kok bisa? Belajarlah dari Iblis dan kawan-kawan.

Kinerja dan kesuksesan Iblis sejauh ini patut diacungi jempol. Tidak percaya? Ups, Anda telah bersikap angkuh! Teruslah belajar! Kau bilang kami angkuh, bukankah itu berarti kau sendiri telah bersikap angkuh? Oh, mari terus belajar!

إنَّمَا تَقِفُ الحَيَاةُ عِنْدَمَا يَقِفُ التَعَلُّمُ

Sungguh kehidupan ini berakhir ketika kita berhenti belajar

Rimba Piatu, 06 – 06 – 2017

✶  ✷  ✸  ✹  ✺

1Sebagian menyatakan bahwa yang berhak atas kata-kata ini adalah Domenico Giuntalodi, dengan redaksi asli ANCHORA IMPARO

2المجالسة وجواهر العلم: ٢/١٨٦

3Belakangan Ibn Qutaibah (828-889 M) juga menyampaikan hal senada dengan redaksi:

لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا دَامَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَإنْ ظَنَّ أنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ بَدَأَ جَهْلُهُ

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s