مبروك أم مبارك؟

Masalah ini mengemuka ketika seorang teman dari Suriah menggunakan kata مُبَارَك bukan مَبْرُوْك untuk memberi ucapan selamat.

Di Mesir – yang kesehariannya bergelut dengan bahasa ‘Amiyah العامية (Arabic Slang – Bahasa Jalanan/Populer) – khususnya, Mabruk adalah kata yang mendominasi ucapan selamat.Entah itu untuk baju baru, handphone baru, sampai pasangan baru.

يا رااجل عند محمول جديد؟ مبرووك يا خويا! ألف مبرووك!

Ya Raagel, ‘Andak Mahmoul Gadeed? Mabrouuk ya Khuuya! Alf Mabrouuk! — Bro, kau punya handphone baru? Selamat, Bro! Selamat!!

Saking akrabnya kata ini di lidah dan telinga kami tatkala itu, hingga kata مبارك sebagai ucapan selamat terdengar begitu asing. Kata ini (Mabruk) pun pada akhirnya meraja di ranah Fusha ( العربية الفصحىEloquent Arabic – Bahasa Arab Baku), yang nyatanya memilih kata مبارك (Mubaarak) untuk keperluan di atas.

Jadi مَبْرُوْك adalah kata yang tidak tepat? Mari kita bercerita sedikit tentang kedua kata ini.

Dari sisi Derivasi – pecahan dan pengembangan kata (الاشتقاق) kita gambarkan sesingkat mungkin, sebagai berikut:

مبروك adalah pengembangan (dalam hal ini: isim maf’ul) dari kata بَرَكَ yang mengusung makna استناخة والالصاق والإقامة والملازمة – berhenti, berdiam, berdiam diri.1

برك البعير: استناخ، ثَنَى رِجْلَيْهِ وَأَلْصَقَ صَدْرَهُ وَمِنْطَقَةَ بَطْنِهِ بِالأرْضِ

Si Onta bersimpuh dan menempelkan dada dan perutnya di tanah.

Seperti cerita Dr. Isham Abdul Lathif al-Falij2, ketika kita mengatakan Mabruk kepada seseorang secara literal makna langsungnya adalah بَرَكَ عَلَيْكَ البَعِيْرُ (Semoga Unta itu bersimpuh di atas mu!) Lantas bagaimana ألْفُ مَبْرُوْكٍ ? atau ألْفُ ألْفِ مَبْرُوْكٍ ? Wah, Semoga kau ditindih seribu/sejuta onta? Dengan kata lain, alih-alih mengucapkan selamat atau mendo’akan, kita malah mengutuk.

Contoh aplikasi lain untuk kata برك:

برك الرجل في المكان: أقام فيه ولا يبرحها – Pria itu menetap di sini, tidak kemana-mana

برك على دراسة بعض الجراثيم – Ia terus menekuni bakteri

مبارك adalah isim maf’ul dari kata بارك yang mengusung makna 3البركة والنماء والزيادةKeberkahan, pertumbuhan, surlpus, dst. Pada prakteknya kita menemukan بارك pada shalawat yang kita baca ketika shalat; وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ.Yap, kata yang digunakan adalah, بَارِكْْ, bukan اُبرُكْ

Selanjutnya mari kita perhatikan beberapa redaksi dari al-Qur’an berikut ini:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi4

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada5

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.6

Kita bisa melihat kata-kata yang dipakai adalah مباركا/مباركة, bukan مبروكا/مبروكة.

Kita lihat pula ucapan Rasulullah sesudah makan:

الحمد لله كثيرا طيبا مُبَارَكًا غير مكفي ولا مودع ولا مستغنى عنه ربنا7

Di sisi hubungannya dengan objek, kata برك bersifat Laazim (Intransitif – tidak memiliki/membutuhkan objek). Dengan kata lain, kata ini bukanlah bahan pembentukan isim مفعول, kecuali dengan bantuan huruf Jar (ex: بَرَكَتِ النَاقَةُ عَلَى صَاحِبِهَا فَهُوَ مَبْرُوْكٌ عَلَيْهِ. Kita tidak bisa mengatakan: بَرَكَتِ النَاقَةُ صَاحِبَهَا فَهُوَ مَبْرُوْكٌ). Nyatanya, pemakaian مبروك berlaku tanpa huruf jar, dan ini timpang secara morfologi (صرف), dan untuk seterusnya secara makna.

Sementara itu, بارك bersifat Muta’addy (Transitif – membutuhkan/memiliki objek); sebuah kata yang pada dasarnya adalah bahan murni untuk sebuah isim مفعول. (ex: بَارَكَ اللهُ اللَّيْلَةَ فَهِيَ مُبَارَكَةٌ). Ini sah, tanpa menutup kemungkinan penambahan huruf Jar sesuai dengan makna yang diinginkan)

Jadi, mestinya Mabruk? Atau Mubarak?

Secara teori, salah satu faktor legalitas sebuah kata dalam bahasa Arab – selama kata yang besangkutan adalah non-tauqify8 – adalah كثرة الاستعمال (keluasan pemakaian), dengan kata lain dipakai dan dipahami oleh orang banyak/Ma’ruf. Ketika kata مبروك dipakai oleh khalayak ramai – bahkan ketika diungkapkan di lingkungan fusha – dan sama-sama dipahami sebagai kata yang menunjukkan pada ucapan selamat dan do’a, pada prinsipnya hal ini tidak bisa lagi dikekang. Meskipun pada dasarnya tidak sejalan dengan kaedah yang baku, secara longgar kata ini telah terlahir sebagai sebuah kata baru.

Terkait masalah ini Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah pernah ditanya. Beliau menjawab bahwasanya kata Mabruk boleh-boleh saja dipakai ketika makna yang dimaksud adalah Mubarak, karena ketika kata Mabruk disajikan, orang-orang memahami bahwa yang dimaksud adalah ucapan selamat/do’a.9

Kesimpulan: Menurut kaedah yang baku, kata yang semestinya digunakan untuk ucapan selamat dan do’a adalah بَارَكَ اللهُ لَك/فِيْك/عَلَيْك atau بَارَكَ اللهُ , atau cukup مُبَارَك atau بِالبَرَكَة. Namun, karena kata penggunaan مبروك sudah demikian luas, dan (seolah hanya) dipahami sebagai ucapan selamat/do’a, serta fakta bahwa kata ini non-tauqify, maka penggunaan مبروك meskipun tidak sejalan dengan kaedah yang baku, sah-sah saja.

Wallahu a’lam.

 

⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂

Batang Surian, 11 Juni 2017

1 Ibnu Manzhur dalam Lisaan al-’Arab mengabarkan bahwa kata ini pada akhirnya juga dipakai untuk makna البركة, namun asalnya adalah برك البعير

2 Jurnalis Kuwait, tulisan ini dimuat di halaman al-Wathan, pada 8 Juni 2015.

3 Rujukan: Qamus al-Muhith, Mu’jam al-Arabiya al-Mu’ashira, Mu’jam al-Wasith, Lisan al-’Arab

4 Q.S al-An’am: 92

5 Q.S Maryam: 31

6 Q.S ad-Dukhaan: 3

7 Diriwayatkan oleh al-Bukhary (5458) dari Abu Umamah

8 Lafaz/kata/istilah yang telah ditetapkan oleh Syari’at.

9 Selengkapnya di Fatawa Islamiya 4/478

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s