The Mighty ‘R’ Word – Radikalisme

Aku adalah seorang Muslim radikal!

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata-kata di atas?

Belakangan kata RADIKAL melejit menuju puncak popularitas. Bukan berarti kata ini masih muda, hanya saja belakangan gaungnya semakin terasa.

Tak perlulah kita tutupi kenyataan betapa belakangan kata ini tak pernah menyinggahi telinga tanpa gaung negatif. Kata RADIKAL seolah telah menjadi seonggok kotoran yang memaksa kita untuk menutup hidung. Kata radikal telah menjadi momok, lakon yang buruk. Kata RADIKAL telah menjadi kata sifat khusus bagi segala sesuatu yang mesti dihindari, bahkan dibunuh dan dimusnahkan secepat mungkin.

Jika kita kaji kembali kata ini, kita akan berkenalan dengan yang istilah KATA NETRAL. Kata yang bersifat netral tidak condong ke arah positif atau negatif. Makna positif dan negatif hanya akan muncul ketika kata tersebut bersanding dengan kata lain yang tidak netral.

Ketika saya menyatakan ‘Saya adalah seorang laki-laki’. Apakah pernyataan ini positif? Atau negatif? Pada dasarnya kita tak bisa memutuskan dengan sepotong pernyataan di atas saja. Maknanya bisa menjadi positif, ketika misalnya kata ini saya ungkapkan ketika berada di sebuah kerumunan wanita renta yang tengah membutuhkan tenaga laki-laki. Pun pernyataan di atas bisa bermakna negatif ketika di sampaikan di sebuah tempat dimana kehadiran laki-laki tidak diinginkan.

Andai saya katakan, ‘Saya adalah seorang laki-laki radikal’. Bagaimanakah respon anda? Kemungkinan besar saya akan dihadiahi deretan muka masam. Oh, orang ini radikal, hati-hati! Lampu kuning langsung hidup di benak para pendengar, padahal sebenarnya pernyataan ini pada dasarnya sama sekali tidak berarti negatif. Mengapa?

Kata radikal itu sendiri berasal dari bahasa Latin: radix, yang berarti akar (root). Ketika kita rujuk KBBI, ia juga menyatakan bahwa radikal sederhananya memiliki makna: mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Tiada sama sekali penyematan makna positif, maupun negatif. Dengan kata lain, RADIKAL termasuk kata yang bermakna netral.

Ketika saya nyatakan, ’Saya adalah laki-laki radikal’, sebenarnya yang ingin sampaikan hanyalah bahwa saya adalah seorang laki-laki yang bertindak dan hidup sesuai dengan fitrah dan prinsip yang semestinya dimiliki oleh seorang laki-laki, tanpa menyalahinya sedikitpun. Justu jika kita pikir lebih jauh dan mengaitkannya dengan masalah-masalah normatif, pernyataan di atas mestinya lebih condong ke arah positif. Mengapa? Karena tak ada yang lebih baik dari pada laki-laki yang hidup sesuai fitrah dan prinsip sebagai seorang laki-laki, sebagaimana tak ada yang lebih bagus dari pada wanita yang berjalan sesuai kodratnya sebagai seorang wanita.

Makna negatif hanya akan muncul ketika pernyataan saya misalnya berupa, ’Saya adalah seorang PEROKOK RADIKAL’. Makna negatif ini muncul bukan dari kata RADIKAL itu sendiri, tapi dari kata PEROKOK. Andai kata PEROKOK diganti misalnya dengan PECINTA BUAH-BUAHAN, otomatis kata radikal tertarik ke arah positif. Pernyataan ini bermakna positif bukan karena kata RADIKAL mengusung makna positif, akan tetapi karena kata RADIKAL di dalamnya disandingkan dengan kata yang mengusung makna positif.

Karakter kata RADIKAL telah dihancurkan sedemikian rupa, dan dibangkitkan kembali sebagai sebuah kata berkonotasi negatif. Kampanye ini terus diusung dan didengungkan dari masa ke masa, sehingga berlakulah konsep ‘IF YOU REPEAT A LIE OFTEN ENOUGH, IT BECOMES THE TRUTH’ (Sebuah kebohongan akan menjadi kebenaran ketika kau terus-menerus mengumandakannya).

Kata radikal telah dipelintir habis-habisan agar tidak lagi bermakna netral. Kata radikal terlah dipelintir untuk bermakna negatif, sehingga kata apapun yang disandingkan dengannya juga akan bermakna negatif. Ungakapan ‘Saya adalah laki-laki radikal’ pada saat ini akan menusuk telinga. Kesan yang hinggap di kepala pendengar bukanlah gambaran seorang laki-laki yang berlaku selayaknya seorang laki-laki ideal, akan tetapi gambaran seorang laki-laki bengis, keras, kasar dan semena-mena, yang melakukan apapun dengan tangan besi demi ambisi.

Inilah yang terjadi ketika kata Islam/Muslim bersanding dengan kata radikal. Nyaris tak kita temukan orang yang dengan bangga mengatakan,’Saya adalah seorang Muslim radikal. Padahal makna ungkapan MUSLIM RADIKAL sebenarnya tak lebih dari gambaran seorang Muslim yang setiap detak jantung dan tarikan nafasnya senantiasa loyal terhadap Islam. Mestinya seorang Muslim bangga ketika dia bisa dengan sadar menyatakan dirinya adalah seorang Muslim radikal. Inilah karakter seorang Muslim sejati, bukan mereka yang mengaku beragama Islam tapi tindak-tanduknya sama sekali tak mencerminkan seroang Muslim, atau dalam satu kata kita mengenalnya dengan Munafik, si muka ganda yang pintar berminyak air.

Sayang, kenyataan yang berkembang nyaris seperti nasi yang telah menjadi bubur. Negasi kenetralan kata radikal sudah terlanjur merasuk ke sanubari umat manusia. Radikalisme adalah momok. Ketika kita temukan Islam radikal bermakna negatif, apakah yang sebenarnya sedang terjadi? Kembali ke kajian di atas, PEROKOK RADIKAL bermakna negatif karena kata RADIKAL yang netral bersanding dengan kata PEROKOK yang berkonotasi negatif. Kata PEROKOK-lah biang keladi makna negatif ini. Ketika Islam radikal dianggap bermakna negatif, maka kata manakah yang sebenarnya bermakna negatif? ISLAM, atau RADIKAL?

Mereka yang mau mempelajari sejarah akan menemukan bahwa pandangan negatif terhadap Islam sudah setua Islam itu sendiri. Islamophobia bukan lagi barang baru. Jika kita cermati, pengerdilan dan kriminalisasi Islam pada hakikatnya bukanlah hal negatif yang mesti ditanggung oleh agama ini, melainkan bukti nyata ketakutan mereka terhadap elegannya Islam.

Ketika elegannya Islam mereka sikapi dengan intimidasi, kekerasan, kriminalisasi, hujatan, ini semua tak lebih dari pernyataan betapa besar kekhawatiran mereka. Ketika mereka yang menyampaikan kebenaran mereka injak-injak dengan semena-mena, hanya akan terus menunjukkan bahwa sejarah kembali berulang. Silakan bertanya kepada Ibn Mas’ud yang berbadan kecil diinjak-injak oleh Abu Jahal beserta kroni-kroninya, hanya karena mereka tak punya cara yang lebih elegan dan jantan menghadapi kumandang al-Qur’an di sisi Ka’bah. Tanyakan kepada keluarga Yasir, Sayyid Qutb, Raja Faisal, para korban G30S PKI, Buya HAMKA, Muhammad Mursi, Muammar Khadafi, Abu Bakar Baasyir dan sekian banyak saksi sejarah kebusukan musuh-musuh Islam. Kesadaran atas superioritas Islam serta rasa takut telah mendorong musuh-musuh umat ini memanfaatkan berbagai cara demi membendung pergerakan umat, salah satunya lewat liciknya eksploitasi kata RADIKAL. Jika umat tak segera menyadari ini, mereka dengan akan kehilangan semangat, untuk kemudian perlahan kehilangan jati diri.

Dalam hal ini, kata RADIKAL tidaklah sendiri. Sekian banyak kata lain yang telah sukses diselewengkan sepanjang sejarah. Distorsi kata-kata semisal Jihad, Khilafah, dan Syari’ah adalah beberapa butir dari gunung perbendaharaan kata yang telah membuktikan – dengan gilang gemilang – ketakutan musuh Islam. Mereka selewengkan kata Jihad, Khilafah, Syariah, mereka manfaatkan minimnya pengetahuan umat Islam dengan agama mereka, mereka pampang betapa kata-kata ini tak lain tak bukan adalah ungkapan yang mengandung kekerasan, kekejaman, berseberangan dengan HAM, dst, sehingga di mata umat Islam sendiri kata-kata ini terlihat bagaikan sebuah wabah yang sebisa mungkin di hindari.

Nasionalisme? Kebhinnekaan? Demi persatuan? Pancasila? HAM? Terdengar basi bukan? Umat inilah yang telah berdarah-darah demi Ibu Pertiwi hari ini tanpa berkoar-koar tentang Nasionalisme sambil menepuk dada ketika kemerdekaan itu akhirnya datang. Agama inilah yang telah mengilhami Pancasila. Umat inilah yang telah membidani lahirnya dasar negara yang lima. Umat inilah yang korban perasaan dengan terhapusnya tujuh kata dari Piagam Jakarta demi KEBHINNEKAAN DAN PERSATUAN. Umat inilah yang telah mengajari bangsa besar ini menghargai HAM, sebuah kata yang sampai sekarang-pun hanya sedikit yang memahaminya.

Tanyalah Perang Salib. Benarkah perang legendaris ini pantas mengusung kata SALIB? Sementara tujuan sejati dari perang itu sendiri bukanlah untuk membela SALIB, melainkan demi misi busuk kolonialisme bangsa Frank? Semestinya, INVASI BANGSA FRANK-lah sebutan yang jujur dan pantas disematkan pada pesta berdarah yang satu ini. Mengatas-namakan agama demi nafsu kolinialisme? Penyalahgunaan HAM, Nasionalisme dan ke-Bhinneka-an? Bukan barang baru, kawan.

Kembali ke Ibu Pertiwi, benarkah atas dasar Nasionalisme? Benarkah atas dasar Bhinneka Tunggal Ika? Benarkah demi Pancalisa? Hati yang terbuka dan logika yang jernih akan segera tahu jawabannya, tanpa mesti menguras keringat merenung bertapa.

Namin, di balik semua ini, semestinya kita tak perlu bersedih. Umat ini akan tak kan pernah sepi dari ujian, dan berdiam diri bukanlah pilihan. Tantangan yang datang menyatakan betapa kita diperhitungkan. Tak usah segan menjadi seorang Muslim radikal, karena seorang Muslim radikal-lah yang pantas menyebut diri Muslim sejati. Teruslah belajar, sebab ‘Kapalang alim rusak agamo, kapalang arif rusak nagari’1. Kenali diri, sungguh mereka akan terus berdatangan dengan berbagai bentuk provokasi. Islam itu, seperti kata Urang Awak, “Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.”2

Muslim Radikal, FTW!

والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب –

Republik Nelangsa, 13 Juni 2017

1Kepalang alim, rusak agama. Kepalang arif, rusak negeri.

2Mampu bertindak tegas dengan penuh kebijaksanaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s