Kedipan dari Dunia Tanpa Smartphone

Pra-2010 adalah masa-masa dimana koran adalah bacaan favorit siswa MAN Koto Baru Padang Panjang. Stand koran yang isi gantungannya tak seberapa adalah titik paling ramai di perpustakaan sekolah kami — meskipun kebanyakan cuma ingin mengetahui kabar terbaru dari dunia sepak bola —  membuat perpustakaan bukan hanya tempat bagi para kutu buku. Bahkan salah satu guru kami yang mengajar Bahasa Arab adalah seorang antuasias dunia bola. Tak jarang beliau menghabiskan waktu istirahat bersama kami diperpustakaan, mengomentari dunia bola dan segala kasak kusuk di dalamnya dengan koran ternganga di tangan.

Bagi sebagian orang boleh jadi ini terdengar remeh. Guru dan murid bicara bola. Namun di sela-sela itulah kami berkenalan dengan lembar Khazanah Republika, yang segera menjadi jajanan harian bagi sebagian kami di perpustakaan sekolah. Pada dasarnya lembar Khazanah (setidaknya pada masa itu — 2008) mengusung sejarah Islam dan para pelakunya di berbagai lini kehidupan. Tak jarang Khazanah melirik permasalahan aktual umat lewat kaca mata dengan sejarah.

Ketika menoleh kembali ke belakang, ternyata inilah salah satu pemantik kesadaran kami betapa sejarah Islam sudah terlalu lama dipelintir sedemikian rupa. Terlepas dari berbagai kontroversi isi yang sepertinya perlu dikaji ulang, secara tak sadar kami telah berguru pada Khazanah Republika, terutama tentang distorsi sejarah yang kala itu adalah hal yang sama sekali asing bagi kami.

Sayang, koran-koran di perpustakaan kami — layaknya koran pada umumnya — hanya berumur beberapa hari, untuk kemudian diantarkan ke belakang dan tidak ketahuan lagi nasibnya. Akhirnya pada suatu masa kami memutuskan untuk melalukan praktik copet rutin diperpustakaan. Halaman-halaman Khazanah itulah sasarannya. Bukan untuk dijual, tentunya, halaman bola jauh lebih berpeluang untuk itu. ✌ Pada awalnya kami diperbolehkan membawanya keluar perpustakaan untuk difotokopi, namun karena sejumlah pihak tak bertanggung jawab yang membuat halaman olahraga hilang hampir tiap harinya, ijin tersebut tak dapat kami kantongi lagi. Akhirnya kami ‘terpaksa’ melipat halaman khazanah dan menyerahkan takdirnya pada saku celana untuk dibawa ke tukang fotokopi, dan kemudian diam-diam mengembalikannya ke habitat semula. Beberapa kali tertangkap, bahkan sempat di-blacklist (yang menjadi salah satu alasan koleksi satu semester ini tidak lengkap), namun sebagian besar lembar Khazanah berhasil diselamatkan.

Jika ada yang patut disayangkan, ialah inisiatif yang terhitung telat, karena kami memulainya di awal semester akhir kami di sekolah ini. Kompilasi ini berhasil menhimpun lembar Khazanah terhitung sejak Senin, 7 Januari hingga Kamis 19 Juni, tahun 2008, meskipun beberapa hari tidak ditemukan (Khazanah hadir empat hari dalam seminggu, Senin sampai Kamis).

Berikut beberapa lembar wajah dari masa silam:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s