The Missing Part

Apa yang kurang dari dirimu? Pertanyaan relatif. Tapi pada saatnya kita menyadari ada satu hal pasti yang kurang. Saat dimana kita adalah tubuh yang merindukan tulang rusuknya — tulang rusuk yang merindukan tubuh yang sedang menunggu untuk menjadi utuh.
Sebagai tubuh, ada banyak pilihan tulang rusuk di luar sana untuk kau pasang di bagian yang hilang. Sebagai tulang rusuk, memilih tubuh mana yang mau ditempati adalah otoritas. Masing-masing bebas memilih. Tapi, dari sekian banyak pilihan, hanya ada sepasang dari kedua bagian tersebut yang saling bersesuaian dengan presisi absolut tak terbantahkan.
Mengambil tulang rusuk yang kebesaran dan memaksanya untuk terpasang di tubuh? Tubuh akan terluka, dan tulang tersebut akan patah. Kau akan berjalan dengan rasa sakit di sekujur tubuhmu. Kalau kekecilan? Kau harus mencari potongan lain untuk menyambungnya. Tapi sebuah potongan utuh jauh lebih kokoh dari pada rangkaian sambungan yang kau bangun kemudian. Dan lebih parah lagi, hal itu membuatmu harus mengiris tiap potongan untuk membentuk presisi yang pas, bahkan mungkin harus mengiris tubuhmu sendiri.
Tulang rusuk, mendapatkan housing yang sesuai adalah solusi terbaik. Kekecilan ataupun kebesaran berarti harus patah, melukai, dan disambung yang bukanlah hal yang menyenangkan. Pertemuan antara tulang rusuk dan housing yang pas akan terjadi dengan presisi tinggi, membangun sebuah tubuh kokoh melebihi kokohnya tumpukan bebatuan Piramida Agung Giza.
Masalahnya, bagaimana kita tahu kalau itu adalah potongan tulang rusuk yang kita cari — bagaimana kita tahu kalau tubuh itulah yang kehilangan kita, tulang rusuknya?
Kita tidak akan pernah tahu sampai keduanya dipertemukan olehNya di sebuah ”lahan permanen”. Sampai saat itu datang, jagalah agar tubuh itu tumbuh dengan baik dan kokoh, agar menjadi tempat yang nyaman untuk tulang rusuk-mu saat dia kembali.
Dan tulang rusuk, dia juga akan terus tumbuh sampai saatnya tiba untuk kembali. Jangan lecet dan patah sampai saat itu tiba. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa menemukan bagian tubuh yang hilang. Masing-masing butuh waktu untuk tumbuh sampai saatnya, dimana kedua bagian telah tumbuh maksimal, saat kedua bagian datang dan menyambut dengan nyaman. Ceroboh hanya akan menyebabkannya luka, bahkan patah. Dan jika terlanjur patah, segeralah obati. Obat instan yang muncul di saat sakit terkadang bukanlah obat, terkadang itu adalah penyakit, layaknya menelan virus mematikan saat kondisi tubuh rentan.

Skyscraper II

Proses Konstruksi
Setiap bangunan pencakar langit memiliki keunikan struktur yang didesain untuk menahan gaya-gaya fisik seperti faktor geologi, dan iklim, menyesuaikan dengan kebutuhan para client, dan memenuhi visi estetika pemilik dan sang arsitek. Proses konstruksi tiap bangunan juga memiliki keunikan masing-masing. Tahap-tahap berikut merupakan ide dari teknik konstruksi secara umum:

Substruktur
– Konstruksi biasanya dimulai dengan penggalian lubang untuk pembangunan pondasi. Kedalaman galian tergantung kepada seberapa dalam bedrock terbentang dan berapa banyak lantai yang akan dibangun pada bangunan tersebut. Untuk mencegah pergerakan tanah dan untuk mencegah gangguan resapan air di sekitar pembangunan pondasi, sebuah dinding diafragma harus dibangun sebelum penggalian dilakukan. Penggalian dilakukan dengan menggali parit sempit yang dalam sesuai perimeter yang dirancang untuk pondasi. Setelah parit digali, diisi dengan tanah slurry ( disini didefinisikan dengan watery clay/ tanah liat berair) untuk mencegah bangunan dari kerubuhan. Saat parit yang digali telah mencapai kedalaman yang diinginkan, sangkar baja di masukkan kedalam parit tersebut (rankaian baja pondasi). Kemudian beton dipompakan ke dalam parit yang telah berisi rangka baja tersebut — ini akan menggusur  lumpur ringan tadi (watery clay). Dan lumpur tadi digunakan untuk parit bagian lain. Continue reading

Skyscraper

Empire State Building as seen from Top of the Rock

The Empire State Building

Tidak ada standar jumlah lantai dan tinggi sebuah bangunan untuk bisa disebut sebagai pencakar langit. “Menurutku standarnya bukanlah jumlah lantai yang dimiliki sebuah bangunan, tapi standarnya adalah gaya dan tampilan,” tutur arsitek T.J. Gottesdener kepada Christian Science Monitor. Gottestieder, seorang partner di firma Skidmore, Owning and Merril, desainer sejumlah bangunan tinggi termasuk Sears Tower di Chicago, Illinois, melanjutkan, “Apa yang disebut dengan skyscraper? Apakah bangunan yang bisa membuatmu berhenti, berdiri, menjulurkan leher, dan melihat ke atas?”
Sebagian peneliti menggunakan kata “skyscraper/pencakar langit” kepada bangunan yang memiliki setidaknya 20 lantai. Sebagian peneliti yang lain menggunakan kata itu untuk struktur yang memiliki lantai setidaknya 50 lantai. Tapi yang dikenal secara umum adalah, pencakar langit adalah bangunan yang memiliki tinggi 100 lantai atau lebih. Pada ketinggian 102 lantai, Empire State Building di New York mencapai ukuran tinggi 1.224 kaki (373 m), dan menaranya – bagian yang meruncing di puncak bangunan – menjulang setinggi 230 kaki (70) meter terhitung dari lantai 102. Hanya 25 bangunan di seluruh dunia yang berdiri dengan ketinggian lebih dari 1.000 kaki (300 m), termasuk menara, tapi belum termasuk antena yang menjulang di atas bangunan-bangunan tersebut. Continue reading