Asap Basah

ASAP BASAH

Oleh: Arif Hidayat

Sudah dua bulan agaknya langit Padangpanjang kehilangan warna. Hampir selama itu erang keluh kesah memenuhi udara seakan kabut asap belum cukup menyesak dada. Hujan kehilangan arah di balik kabut, tersesat entah kemana. Matahari bangun setengah hati, segan menampakkan muka. Bulan jangan ditanya. Baru saja matahari pulang ia langsung mencari kasur. Nyenyak benar tidur bulan itu.

Manusia memanggil-manggil Tuhan seperti anak ayam kehilangan induk. Lambat laun suara kehilangan itu mulai bernada tuntutan. Mereka berlaku seperti ayam jantan yang sedang menginginkan betina tanpa ingat sekian banyak anak yang sudah dibuat tapi tak diurusinya. Mereka seakan lupa bahwa udara yang setiap hari mereka hirup saja sudah bermasam rasa, apalagi Tuhan yang mereka temui sesekali saja di hari-hari susah.

Manusia dengan segala keluh-kesahnya. Tuhan dengan segala rencana-Nya. Siang itu pasar sayur Bukit Surungan balimau1. Butir-butir kasar berjatuhan, merapat, memindahkan segala makhluk di halaman pasar ke sepanjang pelataran pertokoan. Jas hujan, helmet, terpal, plastik pupuk, bahkan karung goni mengudara demi melindungi manusia dan komoditas mereka. Cericit manusia larut dalam euforia segenap permukaan pasar yang segera berasyik-masyuk dengan istri keduanya, sang hujan.

Di tengah euforia tersebut, langkah seorang wanita paruh baya terhenti di belakang kios ubi. Dengan sumringah ia berbelok dan menyambangi toko pupuk. Sudah hampir empat minggu sejak sawinya ditanam. Mestinya sudah dipupuk, tapi mau diapakan pupuk kalau hujan tak turun-turun? Tanah keras memutih, tak bisa diairi karena untuk sawah saja orang berebut air. Sementara itu, menyiram adalah pilihan yang terlalu berat baginya. Anak bujangnya sibuk menghujani gadis-gadis dengan carut-marut rayuan di perempatan, dan suaminya hanya mau menyirami anjing belangnya dan membawanya berburu babi. Kedua makhluk tak tahu diuntung itu bermuka badak bertelinga kuali.

Di belakangnya, kedai ketupat penuh sesak. Sendok dan garpu silih berganti berbenturan dengan piring dan gigi manusia, ikut menyambut kedatangan hujan. “Ondeh, lebat sekali hujan, sampaikah hujan ini di ladang kita?” tanya seorang wanita kepada suaminya yang terus merokok dan tidak ikut makan. “Mudah-mudahan,” kepulan asap rokok tak sanggup menyamarkan semburat harapan di wajahnya.

Anak muda gempal di sudut mengamini. Mudah-mudahan hujan sampai di persemaian benihnya. Sudah lama sekali rasanya ia mengutuki langit yang tiba-tiba pantang menangis meski berminggu-minggu dicabuli kabut asap. Saban hari ia harus mengangkat air dan menyirami persemaian luas setengah hangus. Sungguh melelahkan. Sore itu ia ingin merdeka.

Hanya saja, hujan bukanlah agen kemerdekaan. Kios ubi sama sekali tidak merdeka. Sang juragan, seorang perempuan subur dengan rantai emas tebal di pergelangan tangannya, rusuh memandangi hujan. Kios besar tanpa dinding yang biasanya hanya dihiasi beberapa karung ubi itu penuh sesak. Bukan oleh karung-karung ubi, melainkan oleh orang-orang kampung dan kuda-kuda besi mereka. Muka ubi jalarnya kelam, sekelam kulit ubi merah yang sedang didudukinya. Belanda-belanda kampung itu kalau ke sawah dibiarkannya saja motornya berpanas berhujan. Tetapi kalau sudah tiba di pasar, motor tua buruk pun jadi anak gadis yang kena panas segan kena hujan tak mau. Berkali-kali dia mengamuk demi kemerdekaan kiosnya, tapi air liurnya habis begitu saja.

Sebuah kuda besi datang, kaki-kakinya ribut bertengkar dengan kerikil di penurunan pintu pasar. Diatasnya bertengger tiga makhluk berselimut plastik pupuk: sepasang manusia dan sekarung cabai. Kuda tua itu semena-mena menyorongkan hidungnya ke dalam kios. Umpatan tauke dengan mulut penuh ubi mentah serta merta menyembur langi-langit, tetapi segera terhenti. Giginya sakit, berdarah.

Sepasang manusia tadi segera membuka jahitan karung dan mengelap isinya dengan kain buruk. Cabai-cabai kusam berjatuhan. Rupanya hama tak mau kalah dengan kabut asap, sehingga mesti diladeni dengan semprotan pestisida bertubi-tubi. Berminggu-minggu cabai itu dihantam pestisida tanpa bilasan hujan. Akhirnya buah cabai memutih seperti anak tikus keluar dari karung tepung. “Tadi sudah kukatakan kalau mau dimasukkan ke karung tolong Uda lap sedikit cabainya!” Laki-laki itu diam. “Sudah sampai di pasar baru turun hujan ini,” wanita itu terus menggerutu. “Kau mau berhujan-hujan memetik cabai?” Suaminya tak habis pikir. “Harusnya hujan turun kemarin!” Istri naik pitam. Suami diam.

Di halaman pasar, seorang wanita bertudung karung belang berlari-lari kecil menempuh hujan. Dia berbelok ke arah gerobak perkedel jagung di emperan kedai kopi. Seorang gadis mengeluk-elukan namanya. “Etek membawa apa? Berapa karung sawi Etek? Berapa harga sawi tadi?” Kicau si gadis begitu dihampiri. Semua itu dijawab si wanita sambil mengelap tangannya yang basah ke karung yang juga basah, “Sudah turun pasaran sawi, cuma dua setengah. Orang-orang sebentar lagi akan membuat rendang dan sop. Mereka tak butuh sawi. Harga daun sop2 mulai naik. Enam belas ribu sekilo. Kau tahu hujan ini turun karena lusa hari raya kurban? Nanti akan turun lagi setelah orang selesai membantai kurban, untuk membasuh darah.” Si gadis mengangguk-angguk.

Keduanya merapat memberi jalan bagi tukang perkedel yang datang dengan adonan baru. Minyak panas terbangun dari tidurnya, mendesis nyaring senyaring harapan di wajah si empunya. “Perkedel Uni, Uda? Panas-panas.” Kerumunan melirik sebentar, lalu kembali memandangi hujan. Pelataran itu semakin sesak saja. Tak sudi kalah, auman blender penjual minuman dingin terus meningkahi tangis minyak panas tukang perkedel di sampingnya. Tak tanggung-tanggung memohon agar kerongkongan para penghuni pasar yang masih dipenuhi kabut asap tidak segera dingin.

Umpatan kerikil kembali ruah saat sebuah gerobak sate terhuyung masuk pasar, dituntun oleh sebentuk angka sepuluh: laki-laki kurus berbaju kebesaran dan bertopi kantong plastik mirip orang-orangan sawah, dan anak muda bulat bermuka pucat. Di penurunan, mereka mengganti formasi angka sepuluh menjadi jajaran genjang: si kurus di belakang, si bulat di depan. Dua buah piring plastik berhamburan keluar gerobak, berguling ke dataran berlumpur di depan kios ubi. Si bulat segera meninggalkan posnya dan mengejar dua pembelot kecil itu. Si kurus kaget. Jajar genjang telah menjadi trapesium. Tubuhnya makin rebah ke belakang seperti anjing gatal menarik baju kurung anak gadis. Tidak tertahan lagi sumpah serapah berhamburan dari mulut si kurus. Dia nyaris terpeleset. Kerumunan di kios ubi bermurah hati menyumbang tawa.

Gerobak sate segera menuju singgasana, menggusur sejumlah kuda besi di emperan sayap kanan kios ubi ke halaman. Gerutuan para korban mengudara dengan frekuensi yang tak bisa ditangkap oleh si tukang sate. Seorang kakek berbadan lampai berkumis lebat bersikeras mempertahankan kuda antik miliknya. Si kurus tak terima. “Ke parkiran saja Pak! Kau kira ini tempat parkir?” pekiknya. “Haa! Kau pikir ini parkiran!?” pemilik kios melolong. “Iya ke parkiran saja!” timpal yang lain latah. Kumis lampai tunduk. Kuda digiring ke parkiran. Kudanya tak boleh terlantar di bawah hujan seperti kuda-kuda lain hanya demi dua ribu rupiah. Tidak!

Bagaimana asal mula kisah gerobak sate dan singgasananya tiada yang tau. Yang jelas, hujan atau tidak, undang-undang tak tertulis bersabda bahwa emperan sayap kanan kios ubi adalah tanah pusaka tukang sate. Tiap pekan sejak zaman ketumbar tukang sate selalu bersemayam di sana. Semua orang yang biasa ke pasar hafal itu. Belanda-belanda tanggung yang tergusur hanya bisa menggerutu. Mereka bisa apa? Ratu kios saja hanya bisa mengobati hati dengan sumpalan ubi.

Di sela-sela proses penggusuran tersebut muncul wajah memberenggut milik wanita pemilik cabai kusam. Harga cabai turun. Cabai cepat masak karena lama berpanas, sehingga banyaklah cabai di pasar. Diajaknya suaminya pulang. “Tidak belanja dulu?” Suami heran. “Lah! Kau pikir kerupuk palembang sekarung ini bukan belanjaan?”

Penjual pupuk sibuk dengan air yang menembaki emperan toko dan timbangan. Hujan telah menambah pekerjaannya. Kedua kaki celana digulung selutut. Tak peduli dengan para pembeli yang gelisah menunggu, diajarinya air tersebut dengan sabar, sesabar rokok di mulutnya menunggu paru-parunya membusuk.

Hujan semakin deras, tapi juragan ketupat tidak lagi mendengarnya. Dia sedang berjibaku. Lakinya ditawan tukang sate. Asap sate itu lebih nyaring dari desisan minyak tukang perkedel, bahkan mengalahkan auman blender minuman di emperan sebelah.

Asap sate dan hujan telah memperburuk rasa ubi mentah. Lebih dari itu, asap sate akhirnya menembus jelaga di wajah juragan ubi. Perut orang itu berontak menyaksikan kunyahan para belanda yang duduk serampangan di atas karung-karung ubi. Dengan malas si kurus disorakinya, “Wan! Sate sepuluh ribu, kuah dan bawang goreng yang banyak. Kerupuk talas juga, dua.”

Hujan mencumbui pasar habis-habisan seperti manusia tak tahu adat. Tetapi layaknya orang-orang kampung yang tak lagi berpusing kepala melihat bujang gadis hilir-mudik berduaan, kesibukan pasar terus berlanjut. Hasil ladang berkejar-kejaran dengan hujan, berdatangan tak kurang dari biasanya. Barang berganti uang, uang berganti barang. Orang-orang bertukar umpat berbalas tawa, tukang angkat bertudung terpal naik-turun menjual jasa, tukang pakang3pun tak kurang giatnya. Kaum adam seperti kebakaran hutan di negeri seberang, semakin disiram semakin berasap! Beberapa perempuan pun berbesar hati mewakili kaum mereka bersedekah asap. Nikmat benar rokok di hari hujan.

Di balik kabut, sumbat langit sedang lepas. Berapa banyak air yang akan tumpah hari itu, kabur bagi mereka, sekabur rezki dan isi kepala manusia. Seorang laki-laki tua di tengah kerumunan tiba-tiba meretas jahitan mulutnya, “Lama sekali hujan ini, tiada ia pikir aku hendak lekas pulang!”

Paninjauan, 2 November 2015

1 Mandi bersama di tempat terbuka demi menyambut bulan Ramadhan.

2 Seledri

3 Istilah yang populer di kalangan petani bagi para makelar sayuran, mereka membeli hasil ladang langsung dari para petani dengan harga seminim mungkin, untuk kemudian ditawarkan ke tauke dengan harga pasaran atau lebih