The Mighty ‘R’ Word – Radikalisme

Aku adalah seorang Muslim radikal!

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata-kata di atas?

Belakangan kata RADIKAL melejit menuju puncak popularitas. Bukan berarti kata ini masih muda, hanya saja belakangan gaungnya semakin terasa.

Tak perlulah kita tutupi kenyataan betapa belakangan kata ini tak pernah menyinggahi telinga tanpa gaung negatif. Kata RADIKAL seolah telah menjadi seonggok kotoran yang memaksa kita untuk Continue reading

Arang di Kening dan Tumor yang Mengakar Tunggang

وَمَا أرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ – الأنبياء:107

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ – القلم:4

إنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأخْلَاقِ – الحديث1

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَجِّدُ لَهَا دِيْنَهَا – الحديث2

Masih ingat kejeniusan Prancis melarang jilbab di sekolah-sekolah? Masih ingatkah kita tentang wanita berjilbab yang didenda di pantai Prancis? Atau desakan anggota parlemen Belanda agar al-Qur’an dilarang? Pernahkah kita menikmati tulisan emas Salman Rushdie The Satanic Verses? Continue reading

Adab Jahily [Bagian I]: Ketika Anak Lughah Terlambat Shalat

Bagi (sebagian) Anak-anak Lughah[1], tahun pertama di al-Azhar adalah tahun Adab[2] Jahily. Bagi yang selapik seketiduran dengan mahasiswa non-Lughah versi ‘kreatif’, anekdot Adab Jahily adalah cemilan harian. Ketika Anak Lughah shalatnya terlambat, anak-anak non-Lughah langsung meraung, ”Biasalah, toh belajarnya juga Adab Jahily.” Bagaimaka jika anak Ushul[3] atau anak Syariah yang telat shalat? Oh,”Malu!! Belajarnya fiqih, tauhid, tafsir, hadits, kok shalatnya telat?”

Wajarkah anak sastra Arab telat shalat? “Ya wajar. Toh mereka belajarnya literatur Arab jahiliah,” celoteh mereka, terbahak. Belakangan anekdot ini adalah salah satu gelitikan dari masa lalu yang sering datang menghampiri. Memeras tawa, sekaligus tanya: Apakah Arab jahiliah hanya indentik dengan segala hal yang negatif? Continue reading

Kekaguman: Antara Pemahaman dan Ilusi

Belakangan, buku Seratus Tokoh (The 100: A Ranking of The Most Influential Persons In History) kembali membahana. Yang menarik adalah, tiap kali buku ini dibahas, poin yang selalu dikedepankan adalah keputusan sang penulis – Michael H. Hart untuk menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan pertama.

Lebih kurang satu dekade lalu, ketika Stephen Cohey sedang melangit dengan The 7 Habits-nya, kami diperkenalkan kepada buku ini juga dengan penekanan poin yang sama. Hebat! Non-Muslim mengakui betapa hebatnya Muhammad SAW. Saat itu, rasanya sekian banyak penceramah mengalasi materi dengan fakta yang disajikan (baca: diulangi) oleh Hart. Beberapa waktu pembicaraan tentang Hart dan bukunya kehilangan Continue reading

Pedang Bermata Dua

الكلمة الحكمة ضالة المؤمن فحيث وجدها فهو أحق بها1

“Ilmu adalah harta Mukmin yang hilang. Dimanapun ia temukan, ilmu itu adalah haknya.”

Benar adanya bumi ini dihamparkan Allah SWT sebagai sekolah terbuka bagi setiap jiwa yang mau belajar. Sekian banyak cendekiawan dididik oleh alam – Muslim, maupun kafir. Pandangan bahwa setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru, telah membuktikan kesaktiannya menelurkan jutaan otak-otak unggulan yang telah mengubah wajah dunia – membangun, ataupun meruntuhkan.

Beberapa tahun berselang sejak seorang laki paruh baya berpenampilan ‘buya’ Continue reading